Ya’juj Dan Ma’juj, Dua Suku Yang Berkuasa Sejak Abad Ke-12 M
Kisah Ya’juj dan Ma’juj disebutkan dalam ajaran agama Yahudi, Kitab
Kejadian umat Kristen dan Al-Quran. Dalam tradisi religi, Ya’juj dan
Ma’juj digambarkan sebagai sosok yang tidak jelas, beberapa orang
menganggapnya masih berbentuk manusia, raksasa, atau menggambarkan suatu
bangsa. Kisah Ya’juj dan Ma’juj diceritakan dalam mitos budaya dan
leteratur, kemiripan karakter kisah juga disebut dalam beberapa teks
terdahulu.
Diceritakan, Ya’juj dan Ma’juj akan muncul di akhir zaman, makhluk yang
memiliki kekuatan perusak dan penghancur kehidupan di muka bumi.
Siapakah mereka, dan benarkah Ya’juj dan Ma’juj (Gog dan Magog) sudah keluar kepermukaan Bumi? Pendapat berikut diambil dari beberapa analisa yang cukup menjelaskan tentang keberadaan Ya’juj dan Ma’juj ataupun Gog dan Magog,
salah satunya studi yang diambil dari catatan Al-Watsiq bin Mu’tasim
adalah seorang Khalifah Bani Abbasiyah yang menjabat antara tahun 842
sampai 847 M.
Gog Dan Magog, Ya’juj Dan Ma’juj
Riwayat Ibnu Katsir menyebutkan, Gog dan Magog adalah
keturunan Nuh
dari anaknya Yafits, seseorang yang dianggap sebagai nenek moyang
bangsa Turki terkurung benteng tinggi, sebuah tembok besar yang pernah
dibangun Dzulqarnain. Ya’juj dan Ma’juj adalah merupakan keturunan
manusia, yaitu masih keturunan anak lelaki Nuh bernama Yafis dan
berhijrah ke utara, yaitu ke Eropa dan Rusia bagian Selatan, selepas
banjir kering. Keturunan Sam berlegar di sekitar bumi Kanaan lalu
membentuk bangsa Arab dan sekitarnya. Keturunan Ham pula berhijrah ke
Afrika lalu membentuk bangsa Afrika.
Legenda menyebutkan ada celah diantaranya, menurut simbolisme
tradisional dan literatur, penutupan celah terbuka dimaksudkan untuk
melindungi dunia dari pengaruh jahat. Banyak sejarawan menganggap
simbolisme ini dapat sepenuhnya dipahami dalam segala aspek, dimana
dinding dianggap berguna sebagai perlindungan dan sekaligus pembatas.
Sejauh ini, tujuan utamanya untuk memastikan pertahanan memadai terhadap
serangan. Dalam tradisi Islam, celah yang dimaksud terjadi pada akhir
siklus dunia, dimana Ya’juj dan Ma’juj atau Gog dan Magog akan mendobrak
dan keluar tanpa henti menyerang dunia.
Mereka dianggap sebagai makhluk yang mempertahankan eksistensi bawah
tanah, ada yang menganggapnya sebagai raksasa, atau diidentifikasi
sesuai dengan yang dikatakan sebelumnya sebagai penjaga harta karun dan
pandai besi dari dunia api dibawah tanah. Istilah ini mengingatkan pada
suatu objek yang sangat jahat dalam semua simbolisme, seperti
menjelaskan keterlibatan makhluk lain. Ada juga entitas yang menyinggung
kisah kuno dari Cina, Fo-Hi, dimana waktu terjadinya sangat dekat
dengan periode
Kali Yuga Awal, zaman yang lebih jauh daripada periode klasik dimana pengetahuan sejarawan sangat terbatas mengungkap misteri ini.
Tradisi Cina berkaitan dengan simbolis Niu-Koua, adik dan istri Fo-hi
yang diceritakan telah memerintah bersama-sama dengannya. Legenda
menyebutkan bahwa batu lima warna dilebur untuk memperbaiki sobekan pada
langit yang disebabkan ulah raksasa, dan ini terjadi setelah beberapa
abad Kali Yuga Awal. Dalam pendekatan sejarah dengan periode siklus Kali
Yuga, celah yang dimaksud mungkin sudah terjadi sejak saat itu.
Sehingga dalam Quran menyebutkan Dzulkarnain, seorang raja bijaksana
telah menutupnya kembali untuk mempertahankan dunia.
Fo-hi, dia lahir sekitar tahun 3468 SM, ibunya hamil ketika muncul
pelangi dan gajah putih. Tiga bidadari datang ketika dia mencuci di
sungai dan tiba-tiba pakaian yang dikenakan bergambar teratai dan penuh
buah. Kehamilan diikuti kelahiran berlangsung sangat cepat, diluar batas
normal manusia. Seorang anak laki-laki dilahirkan lengkap dengan cahaya
pelangi, hingga pada saatnya Fo-Hi membuat hal-hal yang sangat besar
dan bahkan mungkin telah mendirikan sejarah Kekaisaran Cina.
Gog dan Magog, merupakan tokoh apokaliptik dalam Kitab Suci Yahudi dan
Kristen, sementara dalam literatur Islam disebut sebagai Yakjuj Makjuj.
Pada waktu itu, Alexander Agung merupakan seorang pemimpin Yunani kuno
yang menaklukkan sebagian besar wilayah Eurasia barat dan Afrika utara.
Dalam kisah disebutkan Gog dan Magog dikurung Alexander Agung dalam
sebuah tembok besar terkenal sekitar 2200 tahun yang lalu. Beberapa
kalangan sejarawan meyakini bahwa cerita itu benar dengan dukungan
arkeologis, bahwa Alexander Agung telah membangun dinding di Cina untuk
melindungi peradaban dari serangan Gog dan Magog.
Dalam Kitab Yehezkiel menggambarkan Gog seperti seorang pemimpin
Mongol, kemudian referensi Yahudi dan Kristen Awal merujuk Gog dan Magog
sebagai individu, masyarakat, dan tanah. Dalam Kitab Yehezkiel, Gog
Magog diramalkan sejak 2600 tahun yang lalu, dimana Yehezkiel menyatakan
bahwa Gog dan Magog akan datang dengan membawa banyak orang dari bagian
paling jauh di utara, segerombolan penunggang kuda yang terdiri dari
tentara perkasa. Gog Magog menyerang masyarakat yang hidup di tempat
terbuang dan menjarah, orang-orang tampak seperti migran dihamparan luas
Eurasia.
Nubuat Yehezkiel menyebutkan bahwa Gog Magog akan menyerang orang
Israel, orang-orang Israel memiliki kota berdinding dan terjaga
keamanannya, tetapi pertahanan yang menentukan Israel dalam nubuat
Yehezkiel berasal dari Allah yang tengah menunjukkan kuasa-Nya kepada
dunia. Legenda ini populer dikalangan masyarakat barat daya Eurasia,
dikisahkan bahwa Alexander Agung mengurung masyarakat buas yang tinggal
suatu tempat wilayah utara.
Dalam tulisan sejarawan Josephus, Yahudi-Romawi pada abad pertama,
justru menyebut Alexander Agung sebagai seorang penakluk dunia yang
mirip dengan Genghis Khan. Tetapi dalam catatan sejarah, Alexander Agung
tidak seperti Genghis Khan, dia menetap, kosakata antara menetap
(beradab) dan nomaden (liar) adalah struktur yang mendasari sejarawan
untuk mengungkap kisah dinding Alexander. Dalam hal ini, Alexander Agung
sebagai sosok protagonis menunjukkan bahwa masyarakat menetap dianggap
sebagai ancaman bagi masyarakat nomaden.
Kisah Gog dan Magog dan dinding Alexander muncul secara bersamaan
diantara orang Kristen Suriah bagian utara Mesopotamia. Legenda tentang
Alexander Agung menjadi populer setelah kematiannya pada tahun 323 SM.
Kisah Alexander ditulis dalam bahasa Yunani setidaknya pada abad ke-3
SM, dimana seorang penulis Kristen Suriah menulis teks yang
menggambarkan dirinya seperti berikut:
"Mengupas kisah Alexander putra Philip Macedonia, sebagaimana dia
pergi sampai ke ujung dunia dan membuat sebuah gerbang besi, menutupnya
guna menghadapi angin Utara, bahwa Hun (beragam anggapan, tapi juga
merujuk pada orang Scythian) mungkin tidak keluar merusak negara"
Teks ini mengidentifikasi bangsa Hun dianggap sebagai Ya’juj dan Ma’juj
atau Gog dan Magog. Apocalypse Pseudo-Metodius beredar luas dan terkenal
diseluruh Eurasia Barat sejak abad ke-8 M, mempopulerkan kisah tembok
Besar Alexander yang mengurung Gog dan Magog. Pada pertengahan abad ke-9
M, kaum terpelajar meyakini bahwa dinding Alexander yang mengurung
Ya’juj dan Ma’juj berada di barat laut China. Pada abad ini berbagai
spekulasi terpengaruh astronom Persia, geografi, dan matematikawan
Al-Khawarizmi juga menempatkan dinding Alexander berada di barat laut
China.
Studi Khalifah Bani Abbasiyah, Mencari Keberadaan Ya’juj Dan Ma’juj
Klaim dan spekulasi tentang pengurungan Yakjuj Makjuj dimana Dzulkarnain
yang juga dikenal sebagai Alexander membangun tembok besar Cina,
terangkum dalam sebuah laporan resmi Khalifah Abbasiyah Al-Watsiq. Dia
merupakan salah satu orang yang paling kuat dan termasuk pemimpin
terpelajar di abad ke-9 Masehi. Al-Watsiq bin Mu’tasim adalah seorang
Khalifah Bani Abbasiyah yang menjabat antara tahun 842 sampai 847 M. Dia
menggantikan ayahnya al-Mu'tasim Billah dan tertarik dalam hal
pengetahuan, sehingga dirinya dianggap sebagai pelindung besar para
sarjana, salah satunya seniman.
Al-Watsiq dikenal karena berbakat musik dan telah menyusun lebih dari
100 lagu. Selama masa pemerintahannya terjadi pergolakan, yang terbesar
di Suriah dan Palestina. Pergolakan itu disebabkan bertambahnya jurang
pemisah antara penduduk Arab dan prajurit Turki yang terbentuk oleh
ayahnya, Al-Mutasim. Pada waktu itu pergolakan dapat diredakan, tetapi
antagonisme antara kedua kelompok terus meluas dimana tentara Turki
mendapatkan kekuasaan.

Pada tahun 842, Khalifah Al-Watsiq mengirim Sallam, seseorang yang
sangat mahir dalam bahasa untuk menyelesaikan misi dan menentukan 'apakah Ya’juj dan Ma’juj telah menembus dinding Alexander?'
Sallam melakukan perjalanan ke Tiflis (Tbilisi) di Georgia, Kaukasus
dan melewati Darial Pass. Hal ini berdasarkan beberapa catatan sejarah
Alexander menyebutkan bahwa dia membangun tembok setelah melalui Darial
Pass. Bahkan Sallam tidak tertarik dengan reruntuhan tembok Kaukasus
karena tidak sesuai seperti penggambaran yang diharapkan, kemudian dia
menuju timur dan berjalan sejauh 3200 mil ke barat laut China.
Sallam akhirnya melaporkan hasil analisa kepada Khalifah Al-Watsiq,
bahwa dia menemukan dinding Alexander di China sekitar 300 km dari Igu
(saat ini Hami), mungkin di Yumenguan. Dia mnegatakan bahwa dinding yang
mengurung Yakjuj Makjuj atau Gog dan Magog masih utuh, dinding yang
dimaksud tak lain adalah Tembok Besar China. Dalam hal ini, menurut
kisah Kristen Timur menyebutkan dinding Alexander tak lain adalah
dinding Kaukasus, tapi lokasi di Cina memiliki dukungan yang sesuai
dengan literatur Islam, termasuk lokasi dan penggambaran tembok besar
yang kokoh (dibanding Kaukasus yang sudah runtuh sebagian).
Filosofis Tembok Besar Dzulkarnain
Dzulkarnain disebutkan berangkat ke Timur, ayat ini bisa menunjuk ke
Korea, Cina, atau Cina bagian utara (Manchuria). disini dijelaskan bahwa
kata 'sesuatu yang melindungi' diartikan sebagai baju atau penutup.
Oleh karena itu, kelompok ini bisa dianggap sebagai perantau yang tidak
memiliki rumah dan tinggal disebuah lembah datar. Mereka tidak punya
tempat penampungan, payung atau apapun untuk melindungi dari sinar
matahari. Mereka mungkin bekerja pada malam hari dan tinggal ditempat
penampungan bawah tanah disiang hari.
Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah
Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami
tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya)
matahari itu, demikianlah. dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala
apa yang ada padanya (Al-Kahfi 18:90-91)
Hingga apabila dia telah
sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit
itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata:
"Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang
membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu
pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan
mereka?" (Al-Kahfi, 18:93-94)
Selama perjalanan ketiganya, Dzulkarnain mencapai daerah antara Timur
dan Barat, wilayah yang diartikan sebagai Himalaya. Dalam ayat ini juga
menjelaskan bahwa mereka tidak mengerti kata, mereka menggunakan bahasa
yang tidak biasa untuk berkomunikasi. Dzulkarnain tidak berhasil
berkomunikasi dengan suku ini, mungkin dia didampingi juru bahasa atau
membawa orang-orang yang mengerti menyampaikan pesan.
Dalam catatan Badiuzzaman Said Nursi (Badiuzzaman Said Nursi, 16, Lema)
juga menunjuk daerah yang sama, diaman dia menuliskan bahwa Dzulkarnain
membangun tembok panjang antara dua gunung didekat Himalaya untuk
menghentikan serangan terhadap rakyat yang tertindas, dan tembok ini
sebagian besar berhasil menahan serangan.
Kalian mengatakan tidak ada musuh. Padahal sesungguhnya kalian akan
terus memerangi musuh sampai datangnya Ya’juj dan Ma’juj, lebar mukanya,
kecil matanya, dan ada warna putih di rambut atas. Mereka mengalir dari
tempat-tempat yang tinggi, seakan-akan wajah-wajah mereka seperti
perisai (Hadits riwayat Imam Ahmad)
Pemahaman Ya’juj dan Ma’juj sebenarnya lebih difokuskan pada inti
sastra, tidak seperti yang ditafsirkan banyak orang tentang penggambaran
makhluk buas, raksasa, bertanduk, yang keluar dari bawah tanah. Dalam
konsep sufisme, kisah Ya’juj dan Ma’juj menggambarkan perilaku atau
sifat suatu bangsa yang mirip dengan sifat iblis. Itu sebabnya sastra
menggambarkan sosok raksasa, buas, bertanduk, berapi dan dari dalam
tanah, yang artinya bahwa bangsa Ya’juj dan Ma’juj memiliki sifat
berkuasa, menindas, kejam, tidak mengenal konsep Ketuhanan sama sekali.
Dalam buku Beddiuzaman Said Nursi, dikutip dari buku Celaleddin Suyuti berjudul "El-Kesfu Fi Mucazeveti Hazin el-Ummeti El Elfe Ellezi Dellet Aleyh el-Asar",
bahwa kehidupan manusia hanya sampai tahun 1506. Menurut hadist, Al
Mahdi akan hidup selama 40 tahun setelah muncul. Sementara hadits yang
menyebutkan tentang Isa akan hidup di Bumi selama 40 hingga 45 tahun. Al
Mahdi dan Isa akan hidup bersama dalam periode itu, sekitar 7 hingga 10
tahun. Imam Rabbani juga mengatakan bahwa Al Mahdi akan datang setelah
melewati masa 1000 tahun kematian Nabi Muhammad. Menurut penjelasan Imam
Rabbani, Al Mahdi akan datang antara tahun 1400-1600 Hijriah.
Seperti yang telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya tentang '
Manusia Di Bumi Hanya 7000 Tahun, Berakhir 1500 Hijriah',
telah dijelaskan periode kehidupan manusia akan segera berakhir.
Sebelum masa itu tiba, Ya’juj dan Ma’juj akan keluar menguasai seluruh
dunia, tetapi banyak orang yang masih belum memahami makna sastra ini
secara utuh. Telah dijelaskan wilayah yang dibatasi tembok, ketika
perang dunia meletus mereka terlibat langsung sebagai negara yang
menyebarkan faham atheis, tidak mengenal konsep Ketuhanan sama sekali.
Persepsi lain juga mengenal Ya’juj dan Ma’juj sebagai Beruang Merah dan
Beruang Putih, sebuah lambang hewan yang hidup di cuaca dingin dan
dataran tinggi. '...lebar mukanya, kecil matanya..' sudah bisa
dibayangkan dari suku dan bangsa asalnya, tepat dimana tembok itu
berdiri dan membatasi dua wilayah. Tetapi, apakah semua manusia yang
berciri-ciri tersebut termasuk golongan Ya’juj dan Ma’juj? Pemahaman ini
sulit, karena tidak semua yang memiliki ciri tersebut tak mengenal
Ketuhanan sama sekali.
“Telah mulai terbuka hari ini dari dinding Ya’juj dan Ma’juj sebesar
(lubang) ini.” Rasulullah membuat lingkaran dengan dua jarinya, ibu jari
dan jari telunjuk. (HR. Al-Bukhari dari Zainab bintu Jahsyin
radhiyallahu ‘anha).
Awal puncak kejayaan mereka telah terjadi sejak abad ke-12 M, Genghis
Khan menginvasi wilayah Timur Tengah dengan membawa ratusan ribu tentara
terpilih ke Kerajaan Khawarezmia. Pada waktu itu kerajaan ini menguasai
seluruh wilayah Timur Tengah, invasi ini diawali ketika pedagang
Mongolia dibunuh dan harta mereka dirampas oleh panglima Khawarizmi.
Genghis Khan berhasil menawan dan menghukum mati panglima tersebut
dengan cara menuangkan logam panas ke matanya. Amarah Genghis Khan
bertambah setelah cucu kesayangannya terbunuh, populasi rakyat Timur
Tengah berkurang dan wilayah Mongolia bertambah luas sampai kebagian
barat benua Asia. Ketika Genghis Khan kembali ke Mongolia, dia
memerintahkan dua jendral terbaiknya untuk menyelidiki daerah barat dan
membasmi sisa musuh sampai ke wilayah Russia. Kedua jendral memasuki
daratan Eropa, merka mengalami konfrontasi dan menghancurkan pasukan
Salib yang hendak menyerang wilayah Arab.
Berlanjut pada era kolonialisme, industri, perang dunia, hingga sistem
baru yang diperkenalkan Karl Heinrich Marx mulai dikenal, sebuah faham
komunis mulai diterapkan ke beberapa negara. '...
Mereka mengalir dari tempat-tempat yang tinggi, seakan-akan wajah-wajah mereka seperti perisai'
kalimat ini lebih tertuju pada penyebaran anti Ketuhanan, faham yang
mengalir deras tanpa henti memasuki seluruh dunia. Jika kita berfikir
negara Komunis yang sebagian besar anti Ketuhanan, persepsi ini juga
tidak benar. Hal ini dimaksudkan bahwa mereka lebih memfokuskan manusia
untuk tidak mengenal sang Pencipta melalui teknologi, ekonomi, dan
sosialisasi.
"Dan tidak terjadi hari kiamat sampai bangsa-bangsa (suku-suku) dari
umat-Ku menjadi musyrik dan sampai bangsa-bangsa dari umatku menyembah
berhala-berhala. Dan sesungguhnya akan ada pada umatku 30 pendusta,
masing-masing mereka mengaku bahwa dirinya adalah Nabi, dan aku adalah
penutup para nabi. Tidak ada nabi setelahku". (HR. Abu Daud dan
at-Tirmidzi)
Bukti-bukti ini sudah jelas terlihat, dimana manusia diseluruh dunia
disibukkan dengan berbagai teknologi, ekonomi menjadi hal utama, media
juga termasuk didalamnya. Semua orang terlena, seakan-akan waktu
dihabiskan pada konsep yang mereka dukung, sehingga manusia menganggap
teknologi dan ekonomi sebagai Tuhan. Inilah makna sastra yang disebut
sebagai Dajjal, dia tidak terlihat, tetapi bergerak terselubung melalui
konsep yang didukung kaki tangannya,
Ya’juj dan Ma’juj.
Jika menafsirkan Ya’juj dan Ma’juj serta kemunculan Dajjal seperti yang
tertulis dalam teks dan sastra kuno, disebutkan bermata satu yang
diikuti ras-ras aneh seperti hewan (Dabbat Al-Ard), maka sampai Hari
Akhir pun mereka tak akan pernah terlihat didepan mata.
Ya’juj Dan Ma’juj, Dua Suku Di Timur Dan Barat
Menurut Daniel Patrick dalam buku terbarunya '
The Matrix of Gog: From the Land of Magog Came the Khazars to Destroy and Plunder',
penaklukan dunia yang dilakukan Gog Magog dan pasukannya akhirnya akan
membawa perang global. Penemuan arkeologi dan genetik terbaru cukup
menakjubkan, pada kenyataannya,
Magog terletak di Rusia Selatan, juga berada di Caucusus. Gog adalah
nama dari penguasa besar Kerajaan Khazaria, tanah Non-Semit, tak lain
merupakan bangsa Turk yang mengaku sebagai orang Yahudi. Nubuat
Yehezkiel 38-39 disebutkan: bahwa pada hari-hari terakhir, Gog, penguasa
iblis dari tanah Magog, akan datang melawan Israel, yang membawa keluar
bangsa-bangsa. Ia akan datang seperti badai dan akan menaklukkan negeri
ini dari desa tidak berkubu, dan membawa mereka sebagai sandera.
Pada abad ke-8 M, orang-orang Pagan dari Khazaria mengaku telah masuk
agama Yahudi, mengungsi ke Eropa untuk menyerang prajurit Rusia. Pada
tahun 1948, orang-orang Khazaria pergi ke Palestina dimana mereka
menaklukkan Palestina, negara yang pada awalnya damai kemudian mereka
mendirikan kekuasaan baru, Kerajaan Israel. Orang-orang Khazaria yang
mengaku sebagai Yahudi berasal dari tanah Magog, orang Israel tidak
menyadari bahwa pembesar mereka telah disusupi yang terus membawa
bangsanya kedalam konflik berkepanjangan. Nubuat yang dijelaskan dalam
literatur Yahudi sebenarnya sudah terjadi, mereka dalam cengkraman.
Pada abad ke-18 M, sebuah sistem baru mulai dimunculkan melalui Karl
Heinrich Marx, lahir dari keluarga progresif Yahudi. Ayahnya bernama
Herschel keturunan para rabi, yang kemudian meninggalkan agama Yahudi
dan beralih ke agama resmi Prusia, Protestan aliran Lutheran yang
relatif liberal. Menurutnya, sejarah dari berbagai masyarakat hingga
saat ini pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas, sebagaimana
yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis. Apakah dia
termasuk salah satu keturunan Khazaria yang hidup ditanah Israel?
Sebuah buku yang ditulis Muhammad Ali tahun 1992 berjudul '
The Antichrist and Gog and Magog',
dia menuliskan alasan Alkitab di balik konflik yang terjadi saat ini
disekitar Kaukasus. Dalam Quran, begitupula Alkitab Kristen, dan teks
terdahulu berbicara tentang Dajjal, Gog dan Magog (Ya'juj dan Ma'juj),
Dabbat Al-Ard, sangat erat hubungannya dengan Hari Akhir. Quran
menyebutkan Dzulkarnain, menurutnya adalah raja Persia (Darius 1,
521-485 SM) yang memperluas wilayah dari Laut Hitam ke pegunungan
Armenia dan Azerbaijan, dari Tubal (Tblisi, Georgia) ke Mechech
(Chechnya).
Gog dan Magog adalah dua suku dari keturunan Yafet anak Nuh, secara
signifikan nama asli 'Chechnya' untuk menyebut diri mereka, Nokhchi,
yang berarti orang-orang Nuh. Dan bahasa mereka, Nukh, dinyatakan
sebagai Patriark kuno. Sementara Quran menegaskan bahwa Gog menandakan
negara Timur Eropa, dan ulama mengidentifikasi Magog sebagai negara
Barat di Eropa, yaitu Inggris. Muhammad Ali membuktikan bahwa sejak
zaman kuno, patung Gog dan Magog telah berdiri didepan Guildhall London.
Dalam visi yang diungkap Damim Dari, setelah perjalanan selama sebulan
ke pulau barat besar (Inggris), orang Nasrani yang masuk Islam bertemu
dengan tokoh besar terbelenggu dalam gereja. Dia menyebut dirinya
sebagai Masih Al-Dajjal dan berkata "
Aku akan keluar ke seluruh dunia, kecuali Makkah dan Madinah."
Kekuatan Dajjal mencakup 70,000 orang terlatih dan profesional, Ali
menunjuk pusat kendali bearada di benua Amerika dan Eropa. Dimana
tanda-tanda Dabbat Al-Ard telah diterapkan dalam PBB, 10 tanduknya ada
di 10 negara terkuat.
Dari semua analisa yang ditulis sarjanawan meliputi studi arkeologi,
genetik, sastra teks dan literatur tiga agama, semua menyimpulkan hal
yang sama. Sejak kapan, siapa dan dari mana asal Ya’juj Dan Ma’juj
ataupun dan Gog Magog, maka saya kembalikan kepada Anda untuk
menyimpulkan pendapat mereka. Seperti yang diriwayatkan Imam Rabbani,
bahwa Al Mahdi akan datang setelah melewati masa 1000 tahun kematian
Nabi Muhammad, ini sama artinya bahwa kemunculan Ya’juj Dan Ma’juj sudah
dimulai pada waktu itu, di abad ke-12 M.
Referensi
- Embodiments of Evil: Gog and Magog: Interdisciplinary Studies of the "Other" in Literature & Internet Texts, by
Ashgar Seyed-Gohrab, Faustina Doufikar-Aerts, Sen McGlinn. Amsterdam
University Press - Iranian Studies from Leiden University Press, August
2011.
- Gog and Magog in early Syriac and Islamic sources: Sallam’s quest for Alexander’s wall, by Donzel, E J van, Andrea B. Schmidt, and Claudia Ott. Brill Academic Publishers, June 2010.
- Portents And Features Of The Mahdi's Coming, by Harun Yahya , 2010
- The Antichrist and Gog and Magog, by Muhammad Ali, December 1992
- The Matrix of Gog: From the Land of Magog Came the Khazars to Destroy and Plunder, by Daniel Patrick, April 2014
- Gog and Magog in early Eastern Christian and Islamic sources. Sallam's quest for Alexander's Wall, by Central Asian Survey, Volume 31, Issue 1, 2012.
- Mural of siege warfare, Genghis Khan Exhibit, Tech Museum San Jose, 2010. Iranischer Meister, image courtesy of Wikipedia
THANKS MOGA BERMANFAAT